1. Hj. Harfana
Hj. Harfana Alwi
atau akrab dipanggil dengan Anha ini merupakan seorang pengusaha sukses asal
Kota Bone Sulawesi Selatan dengan Nama Perusahaannya yaitu PT Harfana Halim
Indah. Anha ini, lahir di Watampone Kabupaten Bone pada Tanggal 26 September
1990, merupakan anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara. Ia termasuk seorang anak
yang lahir dari keluarga yang berada, ia memiliki banyak skali skill
(kemampuan) dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang kewirausahaan.
Sekarang ini, Anha sedang menempuh pendidikannya di Jurusan Kedokteran Umum
Universitas Hasanuddin, dibalik kesibukannya tersebut, Ia juga merupakan
Pimpinan Utama (Direktur) dari Perusahannya tersebut.
Perusahaan
PT Harfana Halim Indah yang dikelola oleh Harfana ini asal mulanya, ditangani
oleh Ayahnya (H.Muhammad Alwi), ia hanya melanjutkan perjuangan dan cita-cita
Ayahnya. Usaha ini mempunyai sejarah sebagai Berikut:
Usaha
ini sebelumnya dibangun oleh Ayah dari Sdri. HJ.Harfana Alwi yaitu H.Muhammad.
Alwi yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang gigi. Ia memulai usahanya dengan
mengumpulkan modal sedikit demi sedikit ke dalam tabungannya yaitu BRI hingga
mencukupi untuk meraih impiannya tersebut. Modal tersebut dikumpulkannya dari
usahanya sebagai tukang gigi, dan modal tambahan yang diberikan dari kakek
Sdrii HJ.Harfana Alwi yang bekerja sebagai petani. Usaha ini pada awalnya
berkembang dengan sangat lambat disebabkan oleh factor modal, namun dengan
adanya peminjaman kredit pada Bank, maka usaha ini terus mengalami
perkembangan.
Setelah
HJ.Harfana Alwi berusia 17 tahun, ayahnya mewariskan atau
memindahtangankan seluruhnya usaha ini
kepadanya. Sehingga ia merasa pada usia tersebut sebagai usia yang menuntunnya
untuk menjadi seorang wirausaha dari usaha yang dicetuskan oleh Ayahnya. Selama
berada di tangan HJ.Harfana Alwi, usaha ini terus menerus mengalami
perkembangan pesat, ia melakukan sedikit perubahan-perubahan pada organisasi
usaha ini, dimana perubahan ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi calon
pembelinya.
Yang
menjadi trik utama dalam usaha Real Estate ini
adalah, mencari lokasi atau sasaran pembangunan yang kurang persaingan dalam
lokasi tersebut. Seperti di daerah perkotaan yang padat penduduk, namun kurang
persaingan pada lokasi tersebut. Dalam usaha ini, dilakukan di daerah Bone,
Bombana, dan Palopo. Maka dari hal tersebut, sehingga lahirlah suatu perusahaan
yang besar, yang dikelolah oleh tangan-tangan yang terampil pada bidangnya
masing-masing.
Berikut
ini adalah sekilas tentang Perusahaan PT Harfana Halim Indah:
Jenis
Usaha : Real Estate “Pengadaan
Jual Beli Rumah dalam lingkungan suatu Perumahan”
Tanggal
Berdiri : Tahun 1985
Tempat
Berdiri : Watampone, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan
Modal
awal : Rp. 500.000,-
Sumber
Modal : Tabungan Sendiri (dari
Usaha-usaha sebelumnya seperti Usaha Sebagai Tukang Gigi dan tambahan dari
orang Tua)
Omset : Rp. 2.000.000.000,-/Bulan
Lokasi
Usaha : Tersebar di berbagai
Provinsi di Pulau Sulawesi seperti Sulawesi Selatan pada umumnya, Sulawei
tenggara, dan Sulawesi Tengara.
Pusat/Kantor
Lokasi Usaha :
1.
Jalan Sambaloge Baru Watampone, Kabupaten Bone.
2.
Jalan Poros Palopo-Belopa, Kabupaten Palopo.
3.
Bombana, Sulawesi Tenggara
Nama-nama
Perumahan:
1.
BTN Harfana halim Indah Permai
2.
BTN Harfana halim Indah Lestari
3.
BTN Alam Indah Permai
4.
BTN Permata Biru Indah Permai
5.
BTN Bone Biru Indah Permai
6.
Perumnas Tibojong Indah Permai
7.
Taman Anggrek Indah Permai
8.
Bombana Indah Permai
9.
BTN Bombana Harfana Indah Permai
10. Palopo
Harfana Indah Permai
Proses
Jual Beli Rumah
|
Jenis
Tipe
|
Pembayaran
Cash
(langsung)
|
Pembayaran
dengan Kredit
|
|
|
36
|
Biaya
pembangunan
|
Rp. 30.000.000,-
|
Rp. 30.000.000,-
|
|
Biaya
Penjualan
|
Rp. 120.000.000,-
|
Rp. 150.000.000,-
|
|
|
45
|
Biaya
pembangunan
|
Rp. 45.000.000,-
|
Rp. 45.000.000,-
|
|
Biaya
Penjualan
|
Rp. 150.000.000,-
|
Rp. 175.000.000,-
|
|
Harga
yang tertera di atas senantiasa tidak menetap, sewaktu-waktu dapat berubah,
seminggu atau sebulan kedepannya harganya pasti akan mengalami perubahan,
tergantung hasil dari keputusan rapat yang diadakan secara rutinnya dimana yang
menjadi tolok ukurnya adalahperkembangan dalam dunia pasar.
2.
Bong Chandra
Sebuah
Sukses Pengusaha Muda sebagai Pengembang Properti. Pada usia 22 tahun, Bong
Chandra telah berhasil membangun perumahan pertama proyek 5 hektar dengan nilai
investasi Rp 180 miliar. Ia juga seorang penulis dan seorang Bestseller
Motivator yang telah diundang untuk memberikan motivasi Perusahaan Terbesar di
Dunia pada tahun 2009 (versi Frotune 500). Pada tulisan ini, Bong Chandra telah
memberikan motivasi kepada lebih dari 2 juta orang di seluruh Indonesia.
Bong
Chandra adalah anak kedua dari tiga bersaudara, lahir di Jakarta, 25 Oktober
1987. Bong Chandra lahir di sebuah keluarga sederhana dan segala sesuatu selalu
terpenuhi. Sejak kecil sampai SMA tidak ada prestasi yang telah dicapai Bong
chandra. Dia sebelumnya adalah inferior dan tidak memiliki banyak teman,
kecilnya, dan menderita penyakit asma membuatnya merasa lebih kecil. Dia juga
tidak pernah mendapatkan piala 1 meskipun, dan tidak pernah memenangkan
perlombaan dan kompetisi.
Hal
ini lebih diperparah ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998.
Pada saat itu, keluarga Bong Chandra kebangkrutan. Awalnya Bong Chandra tidak
tahu apa yang terjadi, tapi ia mulai menyadari ketika melihat sendiri dipasang
pengumuman bahwa rumah ini “TERJUAL”. Situasi menjadi semakin buruk ketika
keluarganya harus berutang ribuan dolar untuk membayar kuliah pengusaha muda
yang sukses ini.
Situasi
ini sangat sulit untuk benar-benar membentuk Bong Chandra menjadi seorang
pemuda yang lebih kuat daripada usianya. Pada usia 18 tahun, Bong Chandra
memulai usahanya dengan teman – teman. Dalam bisnis perintis saat itu, Bong
Chandra banyak mendapatkan hinaan dan comooh dari orang di sekitarnya. Dengan
sepeda motor babak belur, ia terus merintis hari kerja dan malam. Pergi keluar
kota saja, naik dalam ransum yang sangat sederhana untuk makan siang hanya $
1.200. Hujan dan panas biasanya diderita oleh Bong Chandra.
Penolakan
– penolakan yang dihadapi oleh pengusaha muda yang sukses ini membuatnya tumbuh
menjadi lebih kuat. Orang-orang yang meremehkan dan menolaknya sebelum
benar-benar melemparkan kayu ke dalam bara api pembakaran. Alih – agak turun,
Bong Chandra harus merasa tertantang untuk membuktikan kepada mereka yang
meragukan. Sekarang Bong Chandra telah terbukti prestasi yang luar biasa bagi
orang – orang yang digunakan untuk memiliki keraguan.
Saat
ini Bong Chandra telah memimpin enam perusahaan dan mengawasi karyawan staf
250, antara lain, PT. Triniti Pioneer Property, PT. Bong Chandra Sukses Sistem,
PT. Gratis Cuci Mobil Indonesia, dan PT BC Kuliner Indonesia. Bong Chandra juga
merupakan Pengembang yang juga telah selesai membangun bernama Ubud Perumahan
Desa di wilayah Jakarta Selatan 5,1 hektar dengan investasi sebesar Rp 180
miliar.
Bong
Chandra juga penulis Kekayaan Best Seller terbatas yang saat ini terjual hampir
100.000 eksemplar. 100% dari penjualan buku akan royati dsumbangkan ke Vincent
Yayasan Jakarta Pusat, selain Bong Chandra juga menulis buku lain berjudul The
Science of Luck yang juga Best Seller.
Dia
juga memberikan motivasi kepada lebih dari 2 juta orang di TV ONE. Seminar
selalu dihadiri oleh ribuan orang, sejak awal 2010, Bong Chandra telah
mengadakan seminar 10x masing2 3000 orang menghadiri.
Pada
tahun 2009 pengusaha muda yang sukses ini diundang untuk memberikan motivasi di
Perusahaan Terbesar di Dunia (versi Fortune 500). Bong Chandra juga telah
diundang oleh beberapa perusahaan seperti Shell, Bank BRI, Bank Mandiri, Panin,
Commonwealth, Yamaha, Ciputra Group, PLN, Gramedia, Prudential, Sunlife, CNI,
TVS Motor, TVI, Real Estate Indonesia, dan masih banyak lagi .
Semua
prestasi di awal utang bahkan NOL. Ini membuktikan bahwa hal yang paling
penting adalah bukan siapa Anda, tetapi apa yang Anda inginkan besok.
3. Bob Sadino
Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil
om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan
dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.
Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek
dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah
keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi
seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah
dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk
berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap
selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota
Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob
bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia.
Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia
jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang
lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob
memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk
bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari
perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang
menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang
mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya,
Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia
pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam
untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam
itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam
ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia
pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari
menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan
istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih
berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana
terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu
orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki
pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal
menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi
pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil
sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke
agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk
konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan
para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali
kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia
dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang
penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang,
rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah
pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu
banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang
paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya
sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan
menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya
dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu,
berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang
melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau
mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih
simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan
akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani
pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga.
Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang
utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun
di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam
dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad,
bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan
SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan
tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta
Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun.
Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang
yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya
ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi
kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang
berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan.
Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari
nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50
ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak:
Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur
sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung,
dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal
1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton
daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan
keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil
fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada
orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau
bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang
tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat
musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat
bersama istri dan dua anaknya.
4. Meity Amelia
MEITY AMELIA: Pengusaha Sukses Berawal dari Hobi Berawal
dari hobi, Meity Amelia sukses sebagai pengusaha bakery dan cake. Ikuti
perjalanan hidupnya.
Meity Amelia lahir di kota kecil di Gorontalo, 50 tahun
lalu. Waktu itu daerahnya sepi dan tidak banyak orang yang menjual makanan.
Setiap sore, Sang Mama selalu membut kue-kue untuk kedua anaknya. Awalnya ia
hanya bisa melihat dan membantu mengambilkan alat atau bahannya saja. Tapi
lama-kelamaan, ia ikut mengaduk adonan, mencetak dan membakar atau
menggorengnya.
Karena seringnya membantu, sejak masuk sekolah dasar
(SD), ia sudah bisa membuat puding dan roti goreng sendiri. “Rasanya puas bisa
membuat roti goreng sendiri dan dinikmati sendiri,” jelas Meity. Jadi ketika
teman-teman sebayanya senang bermain-main di luar rumah, ia berada di dapur
membantu mamanya memasak atau membuat kue sendiri.
Selain belajar membuat aneka cake dan masakan, ia juga
sudah diajari bisnis oleh orang tuanya. Ketika menginjak kelas 3 SD, ia sudah
berani menjual permen dari gula merah di sekolahnya. Karena rasanya enak dan
murah, dagangannya selalu habis dibeli teman-temannya. ”Permen gula merah saya
buat sendiri, jadi keuntungannya jadi lebih besar,” jelas ibu 6 anak ini.
Keahlian membuat cake makin bertambah ketika ia
menginjak sekolah menengah pertama (SMP). Ia suka membeli majalah atau buku
tentang resep dan masakan. Tidak hanya dibaca saja, tetapi ia juga senang
mempraktikannya di rumah. Hasilnya, ia sering sekali menghadiahi teman-teman
atau ponakan dengan tart. ”Kalau pas ada perayaan atau ada teman atau keponakan
ulang tahun, saya sering memberi hadiah kue atau tart buatan sendiri,” jelas
istri Suryo Hadisantoso ini. Ia juga pernah membantu usaha kakak iparnya
membuat kue kering.
cookies box
Proses belajar yang panjang, serta pengalaman yang
banyak membuat kue dan cake, ternyata sangat berguna ketika ia menjalankan
bisnis cake di Jakarta. Tahun 1993, ia membuka Grandville Island, Bakery dan
Cake Shop di komplek pertokoan Greenville, Jakarta Barat. Waktu itu modalnya
hanya 1 mikser kecil, 1 oven biasa, 1 meja dan 1 lemari pendingin. Perlahan
tapi pasti, ia mulai mendapatkan pelanggan. ”Motto kami adalah kualitas di atas
kuantitas,” jelasnya. Untuk itu ia benar-benar memperhatikan kualitas bahan,
penampilan, dan rasa.
cookies mix
Kelebihan dari cake atau kue buatannya adalah ia selalu
memperhatian detail dan membuatnya lebih artistis. Kalau pelukis menuangkan ide
atau gagasannya melalui kain atau kertas, Meity menuangkannya lewat cake atau
kue yang ia buat. ”Saya selalu berusaha membuat cake atau kue menjadi lebih
cantik dan indah,” jelas Meity yang memang jago menghias cake ini.
Karena makin lama pesanan makin banyak, ia mengambil
karyawan untuk membantunya. Sekarang ini ia dibantu 13 karyawan. ”Tapi kalau
mendekati Lebaran, Natal atau hari raya lainnya, saya bisa dibantu 30 karyawan,”
jelas Meity yang sampai sekarang masih rajin ikut kursus membuat cake dan kue.
Baginya, belajar merupakan keharusan jika ingin produknya terus didatangi
pelanggan.
ibu meity pasang
Selain kue kering, ia juga menerima pesanan aneka tart
untuk segala keperluan, aneka snack, dan roti. Lebih dari 60 jenis cake yang ia
produksi antara lain: blackforest, tiramisu, havana cake, sultana butter,
caramel nut, cruncy drop’s dan masih banyak lagi. Beberapa pejabat dan artis
pernah merasakan kelezatan cake buatannya. ”Taufik Hidayat pernah pesan tart
untuk ulang tahun anaknya,” jelas Bendahara Asosiasi Bakery Indonesia ini.
Ada beberapa tips untuk mereka yang ingin memulai usaha
makanan. Pertama, kerjakan dengan kesungguhan hati dan ikhlas. Jangan pernah
menggerutu dengan apa yang ia kerjakan. Kedua, jangan malas belajar entah
dengan mengikuti kursus atau membaca buku. ”Ketiga, terus jaga kualitas dan
selalu buat inovasi baru,” tegas Meity.
5. Sukyatno (Hoo Tjioe)
Siapa yang tak kenal dengan produk es teller 77, ratusan
gerainya sudah tersebar di seluruh nusantara. Tidak puas dengan mempertahankan
pasar dalam negeri, kini produk es
teller 77 merupakan salah satu bisnis franchise makanan yang berhasil merambah
pasar internasional. Produknya sudah menjangkau pasar luar negeri seperti
Malaysia, Singapura, Australia, serta masih akan terus dikembangkan untuk
membuka gerai berikutnya di India, Jeddah dan Arab Saudi.
Terinspirasi dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) yang
menang lomba membuat es teler, Sukyatno yang dulunya bernama Hoo Tjioe Kiat
mencoba menjual es teler di emperan toko dengan menggunakan tenda – tenda.
Usaha yang dimulainya pada tanggal 7 Juli 1982 ini, ternyata bukan peluang bisnis
yang pertama kali Ia coba. Berbagai peluang bisnis seperti menjadi salesman, tengkulak jual beli tanah,
makelar pengurusan SIM, menjadi pemborong bangunan, sampai mencoba bisnis salon
pernah Ia geluti dan semuanya gagal ditengah jalan.
Tak ingin mengulangi kegagalan bisnis seperti
sebelumnya, Sukyatno mulai menekuni bisnis es telernya yang diberi nama es
teler 77. Angka 77 digunakan sebagai merek es telernya, karena angka tersebut
mudah diingat dan diharapkan menjadi angka hoki bagi pemilik bisnis ini.
Keyakinan Sukyatno pun tepat, merek es teler 77 mulai dikenal masyarakat dan
menjadi salah satu produk unggulan dari dulu sampai sekarang.
Dari sebuah warung tenda yang dulunya berada di emperan
toko, Sukyatno berinisiatif untuk mengembangkannya menjadi bisnis waralaba.
Setelah 5 tahun mempertahankan bisnisnya, tepat pada tahun 1987 untuk pertama
kalinya dibuka gerai es teler 77 di Solo dengan sistem franchise. Semenjak itu
perkembangan bisnisnya pun sangat pesat, dengan keuletan dan kerja keras yang
dimiliki Sukyatno kini es teller 77 telah memiliki lebih dari 180 gerai yang
tersebar di berbagai pusat perbelanjaan dan pertokoan yang ada di Indonesia
bahkan hingga mancanegara.
Bersamaan dengan perkembangan bisnisnya, pada tahun 2007
Sukyatno kembali ke hadapan Yang Maha Esa. Kesederhanaan dan kerjakerasnya
dalam mengembangkan usaha, kini dilanjutkan oleh salah satu anaknya yaitu
Andrew Nugroho selaku direktur PT. Top Food Indonesia. Berkat komitmen para
pengelola bisnis ini, sekalipun menghadapi persaingan dagang yang cukup ketat
dengan bisnis franchise makanan asing maupun franchise lokal yang saat ini
banyak bermunculan. Es teller 77 terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang
terbaik bagi para konsumennya. Ini dibuktikan dengan adanya inovasi baru dari
es teler 77 yang mengenalkan menu makanan terbarunya antara lain gado – gado,
rujak buah, mie kangkung, dan nasi goreng buntut. Andrew sengaja mempertahankan
menu tradisional yang tidak asing bagi lidah orang Indonesia, agar masyarakat
yang masuk pertokoan masih bisa menemukan menu tradisional yang mereka gemari.
Disamping itu untuk meningkatkan loyalitas konsumen
terhadap es teler 77, Andrew juga memberikan fasilitas kartu member bagi para
pelanggannya. Dengan kartu klub juara yang diluncurkannya, pelanggan berhak
memperoleh diskon makanan dan minuman yang ada di seluruh gerai es teler 77.
Atas kerjakeras dan perjuangan keluarga Sukyatno dalam
mengembangkan bisnisnya, berbagai penghargaan pun pernah diterimanya.
Kesuksesan es teller 77 dalam mengembangkan bisnis franchisenya, menjadi
motivasi besar bagi semua orang.
Daftar Pustaka
https://profilpengusahasuksesindonesia.wordpress.com/
http://didiknazaruddinprambudi.blogspot.com/2013/04/5-wirausahawan-sukses-indonesia.html
https://www.maxmanroe.com/5-pengusaha-kuliner-yang-sukses-dengan-ide-unik.html
https://profilpengusahasukses.wordpress.com/category/profil-pengusaha-sukses-indonesia/page/2/